Showing posts with label Ikan Baung. Show all posts
Showing posts with label Ikan Baung. Show all posts

Wednesday, September 16, 2009

Teknologi Budi Daya ikan Baung

Teknologi budi daya baung baru mulai disebarkan secara luas sejak tahun 1990-an, setelah ditemukan teknik pembenihan intensif dengan teknik hypofisasi (kawin suntik) menggunakan hormon hipofisa. Seperti ikan jenis lainnya, secara garis besar budi daya baung dibagi menjadi dua bagian, yaitu kegiatan pembenihan dan kegiatan pembesaran. Saat ini, kegiatan pembenihannya masih terbatas dilakukan oleh pihak pemerintah (lembaga penelitian perikanan dan Balai Benih Ikan tertentu).

Kegiatan pembenihan ini umumnya dilakukan Untuk memproduksi benih baung hingga mencapai ukuran tertentu upaya penyediaan benih yang tepat baik dalam segi jumlah, waktu, maupun kualitas yang baik merupakan faktor utama menjamin kelangsungan usaha pembesaran baung hingga ukuran konsumsi.

Pembenihan

Pemijahan baung dengan cara penyuntikan dapat dilakukan menggunakan kelenjar hypofisa yang berasal dari donor ikan mas. Selain itu, juga dapat menggunakan hormon Human Chorionic Gonadotropin (HCG) dengan nama dagang pregnyl atau ovaprime. Dosisnya sebanyak 0.8 ml per kg induk betina dan 0,5 ml per kg induk jantan.


Penyuntikan Induk betina dilakukan sebanyak dua kali. Penyuntikan pertama dilakukan setengah dosis, dan penyuntikan kedua juga setengah dosis. Ponyuntikan kedua dilakukan 8-10 jam setelah penyuntikan pertama. pada penyuntikan pertama juga dilakukan penyuntikan induk jantan. Penyuntikan induk betina dan jantan dilakukan secara intramuskular ( di dalam otot atau daging)) yang dilakukan persis di belakang pangkal sirip pungung. Induk-induk baung yang telah disuntik dipelihara secara terpisah antara jantan dengan betina. Pemeliharaan dilakukan di bak
tembok yang airnya mengalir atau di dalam happa.


Telur-telur yang telah dibuahi, lalu ditetaskan di dalam corong penetasan. untk menghindari timbulnya jamur pada telur, Maka telur direndam dengan Emolin atau Blitz-ich dengan dosis 0,05 cc per liter air. Zat-zat kimia tersebut dapat dibeli di toko kimia atau apotek. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa Setiap kilogram bobot induk betina menghasilkan (fekunditas) 18.730-72.160 butir telur. Sifat fisika dan kimia air yang cocok untuk penetasan telur baung adalah suhu berkisar 25-26° C, pH normal yaitu 6,5, oksigen berkisar 5,76-6,4 mg/l, clan CO2. berkisar 10,7-13,7 mg/l.


Benih-benih atau larva ikan baung yang baru menetas (berumur 1 hari) berukuran 0,5 cm dengan berat 0,7 mg. Larva ini ditampung di dalam happa yang dipasang di bak fibreglass berbentuk bulat. Selanjutnya, larva ini dipelihara di akuarium berukuran 70 x 40 x 40 cm. Setiap akuarium diisi air bersih dan jernih yang telah diaerasi dengan bantuan blower. Setiap akuarium dapat menampung benih baung sebanyak 10 ekor benih per liter air.

Larva yang masih berumur 1 hari belum diberikan pakan tambahan, karena benih tersebut masih mempunyai cadangan pakan berupa yolk sack atau kuning telur. Pada hari kedua dan ketiga benih baru diberi pakan tambahan berupa Moina cyprinacea. Pada hari keempat sampai hari kesepuluh pakan tambahan diganti dengan Artemia yang telah ditetaskan. Pada hari kelima belas, larva dapat diberi pakan alami berupa Daphnia sp. Selanjutnya, larva diberi pakan cacing rambut. Frekuensi pemberian pakan dilakukan 5 Kali per hari,yaitu pada pukul 07.00, 11.00, 15.00, 19.00, dan 23.00.

Larva baung mempunyai kebiasaan menyebar pada malam hari dan hidup berkelompok serta membentuk gumpalan terutama pada Siang hari, sehingga dapat menyebabkan kematian larva yang berada di bagian dalam karena kekurangan oksigen. Karena itu, sistem aerasi harus selalu d1perhatikan agar kandungan oksigen terlarut di dalam air akuarium pomeliharaan larva tetap tinggi. Selain itu, agar kualitas air tetap baik dilakukan penyifonan kotoran yang mengendap di dasar akuarium. penyiponan dilakukan 1 Kali sehari, pada pagi hari sebelum pemberian pakan

sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, AgroMedia Pustaka, 2008

Sunday, September 6, 2009

Pendederan Ikan Baung

Pendederan
Benih-benih baung hasil penetasan selanjutnya dipelihara atau didederkan di kolam tanah atau kolam tembok. Sebelum dilakukan penebaran benih, perlu dilakukan persiapan kolam yang meliputi pengeringan dan penjemuran kolam, perbaikan pematang, pengolahan tanah dasar kolam, pemupukan, serta pembuatan Caren (kemalir). Pengeringan kolam dan penjemuran selama 3 hari bermanfaat untuk membunuh bibit-bibit penyakit atau hama-hama yang ada di dalam kolam.

Pengolahan dasar kolam dilakukan dengan Cara membalikkan tanah dasar kolam, lalu dibuatkan kemalir dengan kemiringan 0,5-1 % ke arah pintu pengeluaran. Untuk menumbuhkan pakan alami, kolam sebaiknya dipupuk menggunakan kotoran ayam petelur sebanyak 500-1000 gram/ M2, tergantung kesuburan tanah. Pupuk tersebut disebarkan merata di dasar kolam. Pada hari keempat kolam diisi air secara bertahap sampai mencapai ketinggian 90 cm.

Agar pakan alami cukup tersedia, ke dalam kolam juga dilakukan inokulasi (penebaran) Moina sp. Inokulasi ini dilakukan sehari setelah pengisian air. Bibit Moina sp. yang merupakan zooplankton dapat diperoleh di Balai Benih Ikan (BBI) terdekat atau di seleksi dari perairan umum (saluran air) yang banyak kandungan bahan organiknya. Setelah itu, kolam didiamkan selama 3—4 hari agar ekosistem kolam dapat mencapai keseimbangan dan Moina sp. dapat berkembang biak. Sebelum benih baung ditebar di kolam dilakukan pengukuran kualitas air yang meliputi suhu, oksigen, dan pH.


Penebaran benih dilakukan pada hari ke-3 setelah penebaran Moina sp. Penebaran benih dilakukan pada pagi atau sore hari untuk menghindari benih stres. Pengambilan benih dilakukan dengan menguras sebagian air akuarium, lalu benih ditangkap menggunakan serokan halus dan ditampung di dalam ember atau baskom plastik. Setelah itu, penebaran dilakukan secara hati-hati di bagian tepi kolam.

Caranya dengan menenggelamkan ember ke dalam air kolam sehingga benih-benih baung, akan keluar dengan sendirinya- Penebaran benih tidak boleh dilakukan dengan cara menggerojokan air- ember langsung ke dalam kolam, karena dapat mengakiban benih baung stres.


Padat tebar benih 50-100 ekor/m2 dengan ukuran benih rata-rata 2,4 cm. jika kolam diyakini kurang subur, padat tebar benih dikurangi menjadi 20-50 ekor/m2. Pemeliharaan benih dilakukan selama empat minggu. Pakan yang dapat diberikan selama pemeliharaan bisa berupa pakan komersial (pelet) dengan kadar protein 28-30% sebanyak 25— 100% total biomassa/hari. Sebelum diberikan, sebaiknya pelet ini dihancurkan. Pemberian pakan dilakukan 3 Kali sehari, pada pagi, siang, dan sore hari.

sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P, AgroMedia Pustaka, 2008

Saturday, September 5, 2009

Pembesaran IKan Baung

Pembesaran baung biasanya dilakukan setelah benih didederkan terlebih dahulu. Namun, ada juga pembudidaya yang langsung memeliharanya di kolam pembesaran, tanpa melalui pendederan. Pambesaran baung dapat dilakukan di berbagai media seperti di kolam air tergenang (kolam tanah,tembok,atau beton), kolam rawa, di karamba jaring apung (KJA), atau di karamba.

Kolam yang digunakan untuk pembesaran ikan baung disesuaikan dengan lahan yang tersedia. Biasanya, kolam pembesaran yang digunakan memiliki luas minimum 100 m2. Sementara itu, jaring yang digunakan untuk memelihara baung di KJA harus memiliki ukuran mata 2,5 cm dengan jaring polietilen nomor 240 D/12. Berdasarkan pengalaman Para petani, jika ikan baung yang akan dipelihara berukuran 50-100 g/ekor, mata jaring yang digunakan berukuran 2 inci.

Sebelum penebaran benih, kolam pembesaran harus dikeringkan terlebih dahulu selama 5-7 hari dengan tujuan untuk membunuh bibit-bibit penyakit, memberantas hama, dan memudahkan pemupukan untuk menumbuhkan pakan alami. Pupuk yang digunakan berupa pupuk kandang sebanyak 500 gram/m2 dan kapur pertanian sebanyak 15 gram/m2. Pupuk dan kapur pertanian tersebut disebar rata di permukaann dasar kolam. Setelah itu, pintu pengeluaran air kolam ditutup, sedangkan pintu pemasukan air dibuka sambil dipasang saringan untuk menjaga agar ikan-ikan liar tidak bisa masuk. Ketinggian air- dalam kolam sebaiknya dipertahankan 75-100 cm.

Penebaran benih baung dilakukan 7 hari setelah pemupukan, saat pakan alami telah tersedia. Benih ditebar pada pagi atau sore hari saat suhu udara masih rendah agar benih tidak stress.

untuk setiap kolam seluas 100 m2 dapat ditebarkan benih benih baung sebanyak 50 ekor dengan ukuran rata-rata 45 gram per ekor. Selama pemeliharaan, ikan baung diberi pakan tambahan berupa pakan buatan komersial atau pakan alternatif. Pakan tambahan komersial yang umum digunakan adalah pelet dengan kandungan protein minimum 25%. Namun lebih baik diberi pakan yang kandungan proteinnya 28%. Sementara itu, pakan tambahan alternatif yang diberikan bisa berupa campuran antara ikan rucah dan dedak halus. Pakan tambahan ini diberikan sebanyak 3% per hari dari berat total ikan.


Lama pemeliharaan sangat tergantung dari ukuran benih yang ditebarkan. Untuk pembesaran di KJA, jika benih yang ditebar berukuran 30-50 gram per ekordalam, waktu 4 bulan pemeliharaan akan mencapai bobot 150-200 gram per ekor atau 5 ekor per kg. Pada pembesaran di kolam, jika benih yang ditebarkan berukuran 45 gram per ekor, dalam waktu 3 bulan menjadi 113 gram per ekor dan jika dipelihara selama 4 bulan, ukurannya akan menyamai ikan baung yang dipelihara di KJA dengan syarat pakan yang diberikan memiliki kandungan protein sesuai yang dianjurkan. Pemanenan ikan baung harus dilakukan secara hati-hati untuk menghindari terjadinya sires atau luka-luka sehingga mutu ikan tetap bagus dan harga jualnya tetap tinggi.

sumber : Khairul Amri, S.Pi, M.Si dan Khairuman, S.P. AgroMedia Pustaka, 2008